Sabtu, 28 Desember 2013

Pesta Demokrasi





https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhn3Yo_upy471YeY_kJBi_nfIqLSuLt0Ic-uPssbbpL_FslrAZqlkcwyXsfesBpmVdxH22BsaGKDcDTeXRITnnJJ6tZZpS2fEJ6FYbM50MxqhlAVyuFq67GFGGwyzd2u0zTHfh6toDM4Po/s320/demokrasi.jpgPESTA DEMOKRASI
by. La Oddang


"Pada suatu pagi yang cerah, suatu sekeluarga besar berangkat ke Tanjung Bira dengan menempuh rute perjalanan dari Sidrap kearah Soppeng untuk nantinya tembus daerah Lappariaja (Bone) hingga Sinjai, kemudian memasuki daerah Bulukumba. Suatu jalur yang belum pernah mereka lalui selama ini, kecuali supir bis..", demikian pembuka kisah, kututurkan hari ini.

Belumlah keluar dari Kota Pangkajene, bus yang mereka tumpangi menemui "persimpangan 4". Maka Pak Supir yang "Demokratis" itu bertanya : "Penumpang yang terhormat. Apakah kita jalan lurus, belok kiri ataukah belok kanan ?".

Maka sontak penumpang pada ribut. Ada yang mengatakan lurus, ada juga yang menunjuk belok kiri dan ada pula yang menegaskan "harus" belok kanan. Akhirnya, Supir yang "amat bijaksana" itu berkata : "sebenarnya saya tahu kalau arah ke Soppeng itu mestinya lurus ke selatan. Tapi demi menjunjung azas demokrasi, maka sebaiknya kita adakan Pemilihan Umum atau Voting !".

Maka seisi bus itu pada turun ke pinggir jalan, mengadakan "pemilihan umum kecil-kecilan" dengan menusuk (mencoblos) kertas kecil yang telah dibagikan "Pak Supir. Astaga, ternyata Supir yang "tanggap keadaan" ini sudah terlebih dahulu menyiapkan format fotocopian yg isinya adalah 3 kotak, masing-masing tertulis : 1. Terus, 2. Kiri, 3. Kanan.

Akhirnya, Voting itu terlaksana jua. Pemenangnya adalah No. 1 (terus). Semuanya menerima dengan legowo alias lapang dada. Maka perjalanan dilanjutkan dengan tenang.

Setelah berjalan 500 meter, bertemu pula dengan "persimpangan 4". Maka "dari pada" ribut, Supir yang arif itu membagikan lagi kertas Vote. "Pemilu lagi yuk ?", tanyanya santai. "Okayy !!", sahut penumpang serempak.

Walhasil, seharian mereka tempuh perjalanan itu, namun belum jua sampai pada perbatasan Sidrap - Soppeng. Masalahnya, terlalu banyak persimpangan 4 yang harus dilalui, ..dan sebagai "keluarga yang beradab serta modern", mereka mengamalkan azas demokrasi dengan sebaik-baiknya.

..... ..... .....

Begitu pula halnya dengan negara ini. Suatu bangsa besar yang sedang keranjingan "pemilukada" dengan mengamalkan Sila ke-4 Pancasila, yakni : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmad kebijaksanaan, permusyawaratan dan perwakilan (coco'muagaro ?). Namun sayangnya, makna "dipimpin" dan "perwakilan" didalamnya agaknya diabaikan. Akhirnya, Negara yang sesungguhnya "kaya sumber daya alam " tapi "miskin kepercayaan satu sama lain" ini menjadi suatu "Negara Pesta".

Maka lihatlah, mulai dari pelosok-pelosok desanya yang terpencil, diadakan "Pesta Demokrasi" pada seluruh tingkatan. Mulai dari RT, RW, Desa, Bupati/Walikota, Gubernur, Presiden dan Legislatif.

Masalahnya kemudian, ..jadwal Pemilukada pada suatu daerah tidak singkron dengan Pemilu Tingkatan lainnya, misalnya : Pada Kabupaten A diadakan Pilbup pada bulan Agustus. Belumlah stabil setelah menyelenggarakan Pemilukada yg penuh kontroversi dan pertengkaran yg berlanjut ke MK, ternyata pada bulan Oktober ini diselenggarakan pula "Pilgub". Kemudian jalannya Pilgub itu juga tidaklah mulus sebagaimana yang diharapkan karena banyaknya kasus gugatan yang diajukan ke MK pula. Namun kasus bertumpuk itu belum pula disidangkan, Ketua MK tertangkap tangan pula karena diduga menerima suap.

Pada akhirnya, jalannya Pemerintahan pada Kab. A ini menjadi oleng. Melangkah terseok-seok menuju arah ke-tidakpasti-an. Adapun para legislatifnya, boro-boro mikirin rakyat. Ada hal yang lebih penting diurusin saat ini, yaitu : Saving Money For Next Year. Pemilu Legislatif dilaksanakan pada tahun depan. Semuanya berjuang sendiri-sendiri untuk tetap "bertengger" pada kursinya. Sementara riset membuktikan, jika jurus paling ampuh agar tetap dipilih oleh rakyat negeri ini adalah "memberikan uang".

Pada akhirnya jua, budaya yang paling subur berkembang pada negeri berbudaya ini, adalah : Budaya Sogok Menyogok di arena gebyar pesta. Mulai dari rumah gubuk seorang Buruh Bangunan, hingga rumah mewah seorang Pejabat Tinggi, semuanya "tidak aman" oleh sogokan.

Namun, "Tiada pesta yang takkan berakhir !", kata Alm. Jendral Muhammad Yusuf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar